LAPORAN
PRAKTIKUM
PEMBUATAN LARUTAN
Di Ajukan Untuk
Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Praktikum Kimia
Dasar I
Dosen : Kartimi, M. Pd

Oleh :
MUHAMMAD TAUFIK
07460901
JURUSAN TARBIYAH / IPA BIOLOGI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
2012
PRAKTIKUM III
PEMBUATAN LARUTAN
A. Kompetensi Dasar
Mahasiswa
mampu memahami larutan dan prinsip-prinsip stoikiometri
B. Tujuan
1.
Mahasiswa mampu membuat larutan dengan
berbagai konsetrasi
2.
Mahasiswa mampu membuat larutan dengan
pengenceran berbagai konsentrasi
3.
Mahasiswa mampu membuat larutan dengan
pencampuran berbagai konsentrasi
C. Dasar Teori
Cara
membuat larutan aplikasinya banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin anda pernah membuat air the manis. Untuk menghasilkan larutan yang
sesuai dengan yang diharapkan tentu anda harus bisa mencampurkan bahan-bahan
dengan komposisi yang sesuai. Keterampilan membuat larutan tentu sangat banyak
manfaatnya baik dilabolatorium maupun dibidang industri.
Molaritas
(M) adalah suatu konsentrasi yang mengukur banyaknya mol zat terlarut dalam
satu liter larutan. Dapat ditulis dengan rumus :
![]() |
Membuat
suatu larutan untuk suatu eksperimen dapat dilakukan dengan melarutkan zat
padat (Kristal) atau dengan melakukan pengenceran larutan konsentrasi tinggi
menjadi konsentrasi rendah. Pengenceran adalah penambahan zat pelarut kedalam
suatu larutan, sehingga konsentrasi larutan menjadi lebih kecil dengan
menambahkan air (pelarut). Dengan rumus :
|
|
|
M1
= Molaritas mula-mula
|
|
V1
= Volume larutan mula-mula
|
|
M2
= Molaritas akhir (setelah pengenceran)
|
|
V2
= Volume akhir (setelah pengencer)
|
Adapun
dua atau lebih larutan sejenis jika dicampur maka molaritas campuran dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :
![]() |
D. Alat dan Bahan
|
ALAT :
|
|
|
|
|
Neraca
|
1 buah
|
Labu ukur 100 ml
|
1 buah
|
|
Gelas Kimia 100 ml
|
1 buah
|
Kaca Arloji
|
1 buah
|
|
Pengaduk
|
1 buah
|
Pipet volume 10 ml
|
1 buah
|
|
|
|
|
|
|
BAHAN :
|
|
|
|
|
·
NaCl
|
|
|
|
|
·
CO(NH2)2
|
|
|
|
|
·
C11H22O11
|
|
|
|
E. Langkah Kerja
a.
Membuat
larutan NaCl 0,1 M, CO(NH2)2 0,1 M, C11H22O11
0,02 M
1)
Hitunglah massa Kristal yang diperlukan
2)
Timbanglah Kristal tersebut dengan tepat
3)
Masukkan kristal hasil penimbangan
kedalam gelas kimia 100 ml dan tambahkan aquadest kedalamnya ± ½ gelas. Aduklah
sampai larut.
4)
Masukkan larutan dalam gelas kimia
tersebut ke dalam labu ukur 100 ml dan tambahkan aquadest (sambil dikocok)
sampai tepat garis batas 100 ml.
b.
Membuat
larutan dengan pengenceran
1)
Ambil 10 ml larutan hasil percobaan A
dengan pipet volume
2)
Masukkan dalam labu ukur 100 ml dan
tambahkan aquades sampai tepat garis batas 100 ml
3)
Hitunglah berapa konsentrasi larutan
percobaan B tersebut !
c.
Membuat
larutan dengan pencampuran
1)
Ambil 10 ml larutan percobaan “a” dan
masukkan kedalam labu ukur 100 ml.
2)
Tambahkan larutan percobaan “b” ke dalam
labu ukur sampai tepat garis batas 100 ml.
3)
Hitunglah berapa molaritas campuran
larutan tersebut.
F. Pembahasan
Larutan merupakan campuran homogen antar dua
atau lebih zat berbeda jenis. Ada dua komponen utama pembentukan
larutan, yaitu zat terlarut (solution), dan
pelarut (solvent). Dalam pembuatan larutan, dikenal larutan
baku, dimana larutan baku adalah larutan yang kepekaannya diketahui
dengan tepat dan dapat dibuat melalui dua cara. Kedua cara tersebut
masing-masing tergantung dari penggunaan bahan baku. Bahan baku adalah
bahan kimia yang dapat dipergunakan untuk membuat larutan baku primer dan untuk
menetapkan kenormalan larutan baku sekunder. Larutan baku
primer adalah suatu larutan yang telah diketahui secara tepat konsentrasinya
melalui metode gravimetri, sedangkan larutan baku sekunder adalah suatu
larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan menggunakan
larutan baku primer dan biasanya melalui metode titrimetri.
1.
Pembuatan Larutan NaOH
Pada proses pembuatan larutan NaOH, dengan menembakan akuades
ke dalam labu takar sampai pada titik tera, dan kemudian mengocoknya sampai
homogen, maka terjadi reaksi ditandai dengan larutan menjadi panas, terjadi
reaksi eksotermal, dan ketika diencerkan larutan menjadi bening. Reaksi kimia
yang terjadi:
NaOH(s) + H2O HCl encer.
NaOH(s) + H2O HCl encer.
2.
Titrasi NaOH dengan HCl
sebagai titran
Pada titrasi HCl terhadap NaOH, terlihat adanya perubahan
warna ketika HCl ditetesi metil merah. Penggunaan indikator metil merah pada
titrasi basa lemah dan amonium hidroksida karena memiliki pH 4,2 – 6,2.
Perubahan warna menjadi kuning, kemudian berubah menjadi merah muda saat
larutan HCl dan metil merah ditetesi NaOH. Untuk molaritas pengenceran
didapatkan sebesar 0,02M. Reaksi kimia yang terjadi, yaitu :
HCl + NaOH NaCl + H2O
3.
Titrasi HCL dengan NaOH
sebagai titran
Indikator fenoftalein memiliki pH antara 8 – 9,6 karena
fenoftalein termasuk asam lemah dalam keadaan terionisasi. Perubahan warna yang
terjadi adalah menjadi kuning, kemudian terjadi perubahan warna lagi setelah
larutan NaOH dan HCl ditetesi fenoftalein dari buret dan warnanya menjadi merah
muda. Molaritas yang dihasilkan adalah 0,03M. Reaksi yang terjadi, yaitu
NaOH + HCl NaCl + H2O
G. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan
ini adalah :
1)
Proses yang digunakan untuk menentukan secara
teliti konsentrasi suatu larutan dikenal sebagai standarisasi.
2)
Indikator yang digunakan dalam percobaan
titrasi menentukan warna yang akan dihasilkan. Dengan menggunakan indikator
yang sesuai maka akan dapat terbaca sifat larutan tersebut.
3)
Hasil perhitungan didapatkan konsentrasi
titrasi asam terhadap basa sebesar 0,02 M, titrasi basa terhadap asam sebesar 0,35 M
Daftar
Pustaka
Kartimi.
2012 . Penuntun
Pratikum Kimia Dasar I . Jurusan IPA-Biologi , IAIN SNJ , Cirebon.
Purba, Michael. 2002. Kimia SMA Kelas XII. Jakarta:
Erlangga.
“LarutanBaku”.
09 Februari 20120. http:// /Praktekanalitik/Referensi/Referensi_Larutan/Index.php.htm
(30 Oktober 2012)
Cirebon, 1 Desember 2012
Asisten Praktikum Praktikan
Dewi
Fortuna Rohmayudrani
Muhammad
Taufik
Mengetahui,
Dosen Pembimbing
Kartimi, M. P.d


Tidak ada komentar:
Posting Komentar